Tampilkan postingan dengan label kelas bunsay iip. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kelas bunsay iip. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 September 2018

Keajaiban Dongeng

Beberapa kali setelah mendongeng, Allah menggerakkan Mufid untuk meniru hal baik dari dongeng saya. Alhamdulillah.

Dongeng tentang pisang dan apel benar-benar membuat saya takjub. Setelah setahun lebih saya, suami, dan nenek Mufid berupaya agar Mufid mau makan buah tanpa penolakan berarti, usaha itu terjawab setelah mendongeng dengan wayang pisang dari kardus bekas. Mufid rutin makan pisang setelahnya.

Saya coba lagi dengan cerita tentang keberanian dan "it works". Keajaiban itu yang membuat saya ketagihan mendongeng.

Sabtu, 14 Juli 2018

Berbagi


Kurang lebih selama 4 bulan terakhir, setiap Jumat saya, Mufid, dan Ate merutinkan berbagi pada yang kurang mampu. Kami berusaha memberikan pada anak-anak pemulung/anak penjual kerupuk tuna netra atau kakek/nenek pemulung. Kami berbagi makanan dan minuman, pernah juga berbagi buku. Hari ini ditambah berbagi uang ke panti. Saya ajak Mufid memasukkan uang ke kotak amal di depan panti asuhan. Uang yang diberikan adalah uang yang Mufid sisihkan dari THR. Semoga kelak ia paham, rejekinya (uang THR) itu bukan sepenuhnya miliknya tapi ada bagian orang yang kurang mampu di dalamnya.

Mufid menunjukkan ekspresi senang setelah memasukkan uang ke kotak, senang setelah berbagi makanan dan minuman. Alhamdulillah.

Entah sudah paham atau belum namun saya sampaikan bahwa berbagi adalah satu cara bersyukur atau berterima kasih pada Allah karena Allah sudah ngasih Mufid makanan, minuman, uang. Sementara ada teman-teman/ kakak-kakak di luar yang makan atau minumnya nggak sebanyak Mufid. Makannya bisa jadi 1x 1 hari, kalau Mufid 2-3x sehari. Mufid punya uang untuk beli mainan dan buku, kakaknya perlu nabung lebih lama.


Jumat, 13 Juli 2018

Jajan

Suatu sore saya, Mufid, dan Ate Mufid mampir ke mini market yang ada ATMnya untuk ambil uang. Setelah ambil uang, Ate menawarkan jajanan pada Mufid.
Ate : "Mufid mau apa?"
Mufid : "Enggak kok Mufid nggak mau apa-apa"
Sontak kami tertawa.
Ate : "Nggak apa-apa kalau Mufid mau Ate beliin"
Mufid : "Mufid masih punya di rumah"
Ate : "Ini? (Astor)"
Mufid : "Ada di kulkas"
Ate : "Mau wafer?"
Mufid : "Ada kok di yaci (laci)"
Akhirnya Mufid menyerah pada choco pie. Hahaha

Ini bukan kali pertama Mufid menolak (di awal) ketika ditawari jajanan. Semoga kebiasaan baik ini bertahan lama. Semoga keinginan untuk jajan Mufid biasa-biasa saja dan tak mudah meminta saat diajak ke toko.

Kamis, 12 Juli 2018

Kacamata



Beberapa hari lalu kami pernah pergi ke supermarket bahan bangunan untuk membeli kran air. Di sana Uti melihat kacamata yang cocok untuk Mufid. Setelah pilih-pilih dan ada yang pas, saya belikan karena pernah janji dan belum ditepati. Kenapa perlu kacamata hitam? Mencegah kelilipan dan silau saat naik motor. Itu yang pernah kami bicarakan sebelumnya.

Kemarin sore saya, Mufid, dan Uti pergi ke toko yang sama. Mufid bilang, "Yah Upit lupa pake kacamata. Beli lagi aja deh". Saya dan Uti tertawa lalu kami jelaskan tidak perlu beli lagi karena sudah punya. Lain kali diingat-ingat untuk pakai kacamata sebelum pergi naik motor. Alhamdulillah Mufid mengerti.

Alhamdulillah Mufid sedikit demi sedikit belajar membedakan keinginan & kebutuhan.

Rabu, 11 Juli 2018

Syukur



Malam ini setelah membaca doa sebelum tidur, Mufid saya ajak review tentang hari ini apa yang membuatnya senang. Salah satunya adalah kacamata baru yang dibeli saat menemani Ibun dan Uti beli peralatan kamar mandi.
Mufid, "Alamduyiyah (Alhamdulillah). Yaa Allah, timatatih (terima kasih) kacamata barunya. Mufid tuka (suka)".

Kenapa saya masukan kisah syukur di sini? Karena kata Allah,
"Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih" (QS. Ibrahim : 7)

Selasa, 10 Juli 2018

Belajar Berencana



Saat Ibun, Babeh dan Mufid sedang main, Ibun menceritakan keinginan Mufid pergi ke BFC Mini Farm pada Babeh. Ibun menyampaikan total harga tiket dan uang yang Mufid punya. Mufid (29 bulan) belum paham jumlah uangnya. Hehe.

Ibun : "Kalau untuk pergi bertiga, uang Mufid belum cukup"
Mufid : "Ada kok uangnya "
Ibun : "Iya tapi kurang. Gimana ya?"
Mufid : "Upi punya uangnya 2, 3, 4..." hihi
Ibun : "Hmm...bagaimana kalau Upi nabung dulu sampai uangnya cukup baru kita pergi?"
Mufid : "ketuju (setuju)"
Ibun : "Babeh setuju?"
Babeh : "Setuju"
Ibun : "Oke, besok Upi mulai nabung ya"...

Senin, 09 Juli 2018

ATM



Di suatu malam Ibun, Mufid dan Babeh naik motor mencari toko helm dan sebelumnya mampir ke minimarket. Mufid BAK sementara Babeh ambil uang dan membeli minuman. Setelah BAK, Mufid melihat mesin ATM. Mufid meminta saya ambil uang karena ia ingin bantu mengambil uang dan mengambil kartu setelah transaksi selesai. Saya sampaikan bahwa Babeh sudah ambil untuk beli helm dan Ibun masih punya uang untuk belanja jadi tidak perlu ambil. Butuh beberapa kali penjelasan sampai akhirnya Mufid tidak lagi meminta saya ambil uang di ATM.

Ya, kalau saya bertransaksi di ATM saya izinkan Mufid membantu. Bahkan Mufid sudah sangat jelas mengucapkan kata ATM, kadang versi lengkapnyan, "ATM Mandiyi" 😁😁

Saya sampaikan, entah ia paham atau tidak. ATM itu isinya uang Babeh, yang ngasih Allah. Tapi supaya Babeh dapat uang babeh harus berusaha, harus kerja, sambil minta juga sama Allah. Mufid dan Ibun juga minta sama Allah.

Sabtu, 07 Juli 2018

Mufid Mau Main

Acara TVRI yang Ibun dan Mufid tonton

Hari ini saya menemani Mufid nonton siaran "Aku Anak Indonesia" di TVRI tentang "BFC Mini Farm". Ada peternakan landak mini, lobster, kelinci, dan lain-lain. Pengunjung bisa berinteraksi langsung sambil bermain atau memandikannya (kecuali lobster).

Mufid tertarik dengan tempat itu,
Mufid : "Upi belum kesana, Bun"
Ibun : "Iya, belom. Mufid mau kesana?"
Mufid : "Mau"
Ibun : "Mau ngapain?"
Mufid : "Mau main sama kelinci, landak, kucing, kura-kura"
Ibun : "Mufid berani?"
Mufid : "Berani"
Ibun : "Masuknya harus beli tiket dulu. Bayarnya pakai apa?"
Mufid : "Pakai uang. Kan mufid punya uang"
Ibun : "Mana uangnya?"
Mufid : "Yang itu, yang ibun simpen"
Ibun : "Oh iya, ada. Tapi Mufid kesana kan sama ibun sama babeh. Ibun dan babeh gimana bayarnya?"
Mufid : "Kan ada uang Upi"
Ibun : "Upi mau beliin tiket ibun?"
Mufid : "Mau"
Ibun : "Terus babeh gimana?"
Mufid : "Upi punya uang kok"
Ibun : "Upi mau beliin babeh juga?"
Mufid : "Iya"
Ibun : "Mufid baik sekali"
Mufid : mengangguk
Ibun : "Coba nanti kita tanya babeh dan hitung dulu ya uangnya cukup atau enggak buat main di sana"
Mufid : "Iya" sambil lanjut nonton

Saat menulis percakapan ini saya senakin sadar kecerdasan finansial saya harus lebih diasah. Sepertinya akan lebih baik kalau saya bisa mencontohkan membuat mini budget untuk berwisata.

Jumat, 06 Juli 2018

Celengan dan Bank

Ilustrasi Mufid menabung

Suatu siang saya mengajak Mufid (29 bulan) ke bank untuk menabung. Saya sampaikan ke Mufid mau menitipkan uang di bank.
Mufid : Upi juga punya di rumah, keyengan (celengan). Kok kita nabung di sini, Bun?
Ibun : Iya, Pi. Nabung bisa juga di bank, nggak harus di celengan yang di rumah.

Tiba giliran kami maju ke teller.
Mufid : hmmm..ini apa?
Ibun dan Teller : Ini bank.

Selesai dari teller
Mufid : Uangnya Ibun mana?
Ibun : Dititip ke tante yang tadi untuk disimpan.

Hehe. Rupanya Mufid masih bingung dengan kegiatan menabung di bank.

Kamis, 05 Juli 2018

THRku

Mufid dan uang THRnya


Mufid dan pos 3Snya

Hari ini setelah mandi, Ibun membawa uang THR Mufid yang belum dipakai sama sekali. Saya ingat sebelum lebaran tantenya memberikan uang pada Mufid tapi Mufid bingung dan sempat menolak. Setelah diberi pengertian, uangnya ia terima dan dititipkan ke Ibun. Hehe.

Ibun: Upi, ini uang dari Uti, Ate, Tante, PakDhe. Semuanya dititipin sama Allah. Kalau Allah nitipnya bukan untuk Mufid, Mufid nggak punya uang ini.
Mufid : (berusaha mencerna)
Ibun : Uang ini dari mana?
Mufid : Allah.

Ibun : Nah, Mufid mau pakai untuk apa uangnya?
Mufid : Beli buku cama mainan (emaknya happy. Ternyata "beli buku" sudah terinternalisasi. Haha)
Ibun : Terus?
Mufid : hmmmm
Ibun : Mau ditabung kayak Shalihah?
Mufid : Mau
Ibun : Mau untuk berbagi (note, beberapa kali saya mengajak Mufid berbagi makanan dan minuman pada pemulung di hari Jumat)?
Mufid : Mau
Ibun : Berapa yang mau dipakai untuk beli buku?
Mufid : yima yibu yima yatus (lima ribu lima ratus, sambil pegang uang seratus ribu). Ini ini ini (mengambil semua uang di meja)
Ibun : Untuk nabung?
Mufid : (uang ditaruh kembali ke meja) Ini juga, ini juga (mengambil lagi semua uangnya)
Ibun : Untuk berbagi?
Mufid : (uang ditaruh kembali ke meja) Yang ini, sama yang ini. (mengambil lagi semua uangnya)

Ibun : Ayo kita bagi tiga uang Mufid, ini untuk berbagi (sharing), ditabung (saving), dan yang ini boleh dipakai (spending). (Ibun membagi tiga sesuai prinsip 3S).

Rabu, 04 Juli 2018

Aku Suka Menabung

Tantangan BunSay IIP level 8 ini lagi-lagi membuat saya berkaca bahwa saya belum menjadi contoh yang baik oleh karenanya harus terus belajar menjadi lebih baik. Sambil saya belajar, saya harus mencari cara untuk mengajarkannya pada anak. Berapa banyak pun materi yang didapat kalau tidak pandai mengelola pasti habis entah kemana, karenanta dibutuhkan keterampilan dalam mengelolanya, cerdas finansial.

Saya mengawali tantangan pertama dengan membacakan Mufid (29 bulan) salah satu seri Halo Balita "Aku Suka Menabung". Diceritakan Saliha ingin beli buku tapi ibu tak punya uang lalu ibu menyarankan Saliha untuk menabung tapi Saliha sempat tergoda menjajankan uang tabungan yang diberi ibu, bagaimana kelanjutannya? Laaah! Ibun lagi review buku? Hahaha.

Kembali lagi ke tantangan BunSay, dari cerita itu saya ajak Mufid berpikir kalau ingin sesuatu butuh waktu dan usaha. Tidak semua dapat dipenuhi seketika. Mufid pernah saya berikan uang untuk menabung tapi saya belum konsisten memberikannya. PR lagi untuk saya.


Mufid (29 bulan) dibacakan buku tentang "cerdas finansial" sebelum tidur

Kamis, 17 Mei 2018

Hewan pun Berwudhu


Kali keempat Mufid menyelesaikan misi menyelamatkan hewan lalu berimajinasi hewannya wudhu lalu sholat berjamaah


Pagi hari dimulai dengan komprod (komunikasi produktif) dengan Mufid (28 bulan) agar mau mandi. Saya buka buku RMA (Rumah Main Anak) 1 lalu menemukan permainan busa sabun. Langsung saya tuang air dan sabun ke blender, tapi Mama saya mengingatkan bahwa blendernya tidak bisa diberikan air, bisa bocor. Ketahuan deh jarang ngoprek di dapur. Haha. Akhirnya saya kocok-kocok blender untuk mencampur sabun dan air. Setelah jadi saya tuang ke ember dan ajak Mufid melihatnya. Alhamdulillah langsung semangat mandi. Di kamar mandi, Mufid minta hewan-hewanan dimasukkan ke dalam busa. Baiklah. Selamat bermain.

Setelah mandi apalagi masalahnya? Nggak mau selesai. Setelah diberikan waktu tambahan, saya perlihatkan mainan berikutnya yang menggunakan bihun. Setelah deal, akhirnya Mufid mau menyudahi mandinya, ganti pakaian, lalu main. Tema bermain kami hari ini "Selamatkan Hewan!". Yang pertama selamatkan dari busa, kedua selamatkan dari bihun. Alhamdulillah Mufid happy. Mainan ini juga saya adaptasi dari buku RMA 1. Barakallah untuk penulis dan tim.

Lanjut ceritanya ya. Setelah pengulangan ke-4, imajinasinya mulai berkembang. Sensory play ini mulai meluas manfaatnya. Hewan yang diselamatkan jalan-jalan, wudhu lalu sholat. Saat hewan wudhu, mufid menyanyikan lagu wudhu.
"Cuci dua tangan lalu kumurlah
Bersihkan hidung cuci mukamu
Cuci tangan kanan, cuci tangan kanan (harusnya kiri)
Basuhlah rambut, telinga, lalu kaki"

Mufid cukup mudah mengingat lagu dan menyanyikan kembali, apalagi kalau lagunya sering dinyanyikan. Kelebihan yang menurun dari Babehnya ini saya optimalkan agar Mufid mudah mengingat kebiasaan baik.

#day1 #semuaanakadalahbintang
#institutibuprofesional
#kelasbundasayang #kelasbunsayiip

Sabtu, 24 Februari 2018

Tentang Gaya Belajar dan Sang Pengamat

Selama proses mengamati gaya belajar anak, ada beberapa kegiatan yang saya kreasikan namun lebih banyak kegiatan yang terjadi apa adanya atau permainan yang Mufid pilih. Sebisa mungkin saya upayakan permainan/kegiatan yang melibatkan lebih banyak indera agar informasi terserap dengan lebih baik.

Dari sekian pengamatan saya mengambil kesimpulan bahwa dalam memunculkan gaya belajar, kepekaan orang tua selama mendampingi anak bermain sambil belajar lebih penting daripada perencanaan kegiatan. Tentunya kepekaan yang diiringi pengetahuan tentang masing-masing gaya belajar.

Tidak mengapa kegiatannya sederhana, yang penting orang tua tetap mendampingi, memberi makna, mengamati, dan menorehkan catatan. Bukan untuk siapa-siapa, melainkan untuk refleksi diri, sebagai bahan renungan sampai mana ikhtiar kita menjaga amanah.

~Putriana Mahardika 2018 untuk Aliran Rasa "Memahami Gaya Belajar Anak"~

Kamis, 01 Februari 2018

Si Kecil Penyerap Suara

Tak terasa sudah masuk game level 4 IIP kelas BunSay yang saya ikuti. Masih ada 8 bulan ke depan, masih harus lebih semangat dan konsisten dalam belajar menjadi Ibu profesional.

Tantangan level #4 adalah menuliskan hasil pengamatan terhadap gaya belajar anak. Subjek saya dalam pengamatan kali ini adalah Mufid (laki-laki) yang bulan Januari kemarin berusia 2 tahun.



Faktor yang dapat mempengaruhi gaya belajar anak yaitu gen dan lingkungan. Lingkungan disini dapat diartikan sebagai orang tua yang menjadi pusat perhatian anak, yang segala gerak-geriknya ditiru anak. Mengapa lingkungan berperan penting? Karena anak perlu bantuan stimulus dari orang tua untuk menumbuhkan fitrah belajarnya yang dibawa saat lahir ke dunia. Stimulus yang diberikan sebaiknya beragam karena informasi akan terserap anak dengan lebih baik semakin banyak panca indera yang digunakan. Dalam proses pemberian stimulus tersebut, orang tua diharapkan sekaligus melakukan pengamatan agar mengetahui gaya belajar anak yang dominan atau apa tipe gaya belajar anak. Apakah anak cenderung bertipe visual, auditori, atau kinestetik.

Apa pentignya orang tua mengetahui tipe gaya belajar anak? Supaya dapat membantu menemukan strategi belajar yang tepat. Jika diberikan strategi yang sesuai dengan gaya belajarnya, anak dapat berkembang dengan lebih baik.

Kali ini saya akan menuliskan beberapa stimulus yang sering saya dan suami berikan serta hasil pengamatan kami selama 2 tahun menjadi orang tua. Mohon maaf jika terlalu panjang narasi dan bumbu-bumbunya 😁

Beberapa bulan setelah menikah (Juli 2015) saya dan suami pindah ke rumah sendiri di Depok, jauh dari rumah orang tua saya di Ciledug dan tidak terlalu dekat dengan rumah mertua di Jagakarsa. Saat hamil dan melahirkan pun kami tinggal di sana. Januari 2016 Mufid lahir, saya dan suami mengurus Mufid berdua saja kecuali jika orang tua dan adik saya menginap saat weekend atau saat saya dan suami menginap di rumah orang tua. Qadarullah akhir Desember 2016 Ayah saya meninggal dunia sehingga saya dan suami memutuskan untuk pindah ke Ciledug lagi sementara waktu dan Juli kami putuskan untuk menetap di Ciledug menemani ibu dan adik perempuan saya. Kebetulan rumah ibu saya juga dekat dengan rumah adik ayah saya sehingga Mufid lebih banyak yang menemani bermain. Mengapa bagian ini saya ceritakan? Karena saya akan bagi menjadi 2 cerita, saat di Depok dengan kondisi sehari-hari bertiga saja dan saat di Ciledug yang lebih banyak orang dewasa.

Depok, Mufid berusia 0 - 12 bulan
Stimulus yang kami berikan (minim paparan televisi) :
♡ Banyak ngobrol apapun aktivitasnya
♡ Baca buku bersama
♡ Baca buku dengan elektronik pen (audiobook)
♡ Memperdengarkan mu'rotal
♡ Menyanyikan lagu anak atau lagu gubahan sendiri
♡ Membuat tepuk sederhana
♡ Menciptakan musik sederhana dengan barang-barang bekas (misal: biji kacang hijau yang dimasukkan ke dalam botol) atau barang yang ditemui di sekitar (memukul-mukul meja kayu)
♡ Role play dengan boneka
♡ Berjalan-jalan keliling komplek sambil mengenalkan hewan dan tumbuhan yang dilihat
♡ Mengajak anak "bermain" bersama teman sebaya dan juga yang lebih dewasa
♡ Merangkak bersama
♡ Memberikan mainan yang bisa digigit (teether)
♡ Memberikan mainan yang berwarna-warni (contoh: donat mainan)
♡ Memberikan mainan yang bisa bersuara (contoh: kerincingan)
♡ Memberikan mainan yang bisa bergerak (contoh : bola)
♡ dll

Ciledug, Mufid berusia 12 bulan sampai sekarang
Stimulus yang kami berikan :
♡ Ngobrol tentang apa saja
♡ Role play dengan boneka
♡ Buku
♡ Buku dan elektronik pen
♡ Video edukasi
♡ Memperdengarkan dan menyanyikan lagu-lagu anak
♡ Mu'rottal
♡ Latihan motorik halus seperti menuang air dari beberapa macam wadah
♡ Permainan yang menstimulus motorik kasarnya seperti menendang bola ke gawang, melompat mengambil benda, dll.
♡ Memberikan mainan yang berwarna-warni (contoh: jepit pakaian dan kertas warna)
♡ Memberikan alat musik (contoh: keyboard)
♡ Memberikan mainan yang bisa bergerak (contoh : mobil-mobilan, bola besar)
♡ Mengajak anak berkenalan dengan hewan jinak seperti kucing dan kelinci
♡ Melakukan percobaan sains sekaligus mengenalkan konsep sederhana seperti tenggelam dan mengapung, membuat ombak di bak mandi, dll.
♡ Mengenalkan anak dengan lebih banyak orang dewasa seperti dalam arisan keluarga dan reuni teman babeh/ibun
♡ Mengenalkan anak dengan lebih banyak area bermain dan belajar seperti playground, kolam renang dan kebun binatang
♡ dll

Hal di atas adalah beberapa stimulus yang kami berikan secara berulang. Ada yang dilakukan Mufid dengan antusias, ada yang kurang antusias. Jika bicara tentang faktor keturunan, saya dominan visual sementara suami saya dominan auditori.

Hasil pengamatan kami terhadap gaya belajar Mufid adalah dominan auditori, disusul dengan visual. Dua kriteria auditori yang mencolok adalah Mufid mudah terganggu dengan keributan dan cepat mengikuti nada atau irama lagu yang diperdengarkan.

Referensi:
Materi #4 Kelas Bunsay, Memahami Gaya Belajar Anak, Mendampingi dengan Benar

#harike1
#Tantangan10hari
#GameLevel4
#GayaBelajarAnak
#kuliahBunSayIIP

Selasa, 09 Januari 2018

Silahturahmi


Proyek yang akan saya ceritakan kali ini dikerjakan pada hari Sabtu, 6 Januari 2018.

Kami sekeluarga, hampir setengah keluarga besar, menghadiri undangan dari keluarga jauh (anak dari adik kakek saya). Setelah itu kami berkunjung ke rumah sepupu saya yang jarang anak saya, Mufid, temui. Mari kita sebut kedua agenda tersebut sebagai agenda silahturahmi. Ada 2 target dalam agenda ini yaitu Mufid mau salim saat bertemu dengan budhe, om/tante, kakek/neneknya dan Mufid mau main bersama sepupunya.

Saya sudah siap dengan kemungkinan terburuk akan menggendong selama silahturahmi berlangsung. Oleh karena itu saya membawakan buku dan mainan untuknya. Tapi Alhamdulillah kedua target itu tercapai, dengan motivasi dan bantuan awal tentunya.

Di mobil pun Mufid sudah tidak mati gaya saat harus semobil dengan budhe, nenek, dan sepupu2nya. Alhamdulillah.

Sesampainya di rumah, setelah bersih-bersih diri, sebelum tidur saya ajak Mufid bercerita tentang pengalaman dan perasaannya hari ini. Saya puji keberaniannya mau bermain bersama, menyatakan pendapat, dan kesediannya berbagi mainan.

#tantangan_hari_ke3
#kelasbunsayiip3
#game_level_3
#kami_bisa